RS PKU Jogja

Perjalanan Penglihatan Kita: Fase Perkembangan Mata dari Janin hingga Lansia

Mata sering disebut sebagai “jendela dunia”. Melalui mata, kita merekam memori, belajar, dan menikmati keindahan ciptaan Allah SWT. Namun, tahukah Sobat Sehat PKU Jogja bahwa kemampuan penglihatan kita tidak bersifat statis? Mata manusia mengalami fase perkembangan yang dinamis mulai dari dalam kandungan hingga lanjut usia.

Memahami setiap fase ini sangat penting agar kita tidak terlambat dalam mendeteksi gangguan yang mungkin terjadi. Mari simak perjalanan perkembangan mata manusia dan apa yang perlu diwaspadai di setiap usianya.

1. Fase Janin dan Bayi Baru Lahir (0-12 Bulan)

Perkembangan mata dimulai sangat dini. Pada usia kehamilan 6 minggu, struktur dasar mata janin sudah mulai terbentuk.

Setelah lahir, bayi baru lahir (newborn) belum memiliki penglihatan sempurna. Dunia mereka masih buram dan didominasi oleh warna hitam-putih. Fokus penglihatan hanya berjarak sekitar 20-30 cm (jarak wajah ibu saat menyusui).

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala pada mata bayi yang perlu diwaspadai:

  • Pupil atau manik mata tampak berwarna putih (bisa menjadi indikasi katarak kongenital).
  • Mata sering berair atau kotoran mata berlebih.
  • Bayi tidak merespons cahaya atau tidak mengikuti gerakan objek berwarna setelah usia 3 bulan.
  • Khusus bayi prematur: Wajib skrining Retinopathy of Prematurity (ROP) untuk mencegah kebutaan permanen.

2. Fase Anak-Anak dan Usia Sekolah (1-12 Tahun)

Ini adalah “Fase Emas” perkembangan penglihatan. Koneksi antara mata dan otak berkembang pesat. Penglihatan yang baik sangat krusial untuk proses belajar di sekolah. Pada fase ini, koordinasi tangan dan mata menjadi lebih baik, persepsi kedalaman (3 dimensi) lebih matang, dan kemampuan fokus meningkat.

Gangguan yang umum terjadi pada fase ini:

  • Kelainan Refraksi: Rabun jauh (miopia), silinder, atau rabun dekat. Peningkatan penggunaan gadget secara drastis meningkatkan risiko miopia pada anak.
    • Mata Malas (Amblyopia): Kondisi di mana satu mata lebih lemah fokusnya daripada yang lain. Jika tidak diterapi sebelum usia 7-9 tahun, bisa menjadi permanen.

Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai:

  • Anak sering menyipitkan mata saat melihat papan tulis atau TV.
  • Sering mengucek mata.
  • Mengeluh pusing atau mata lelah setelah membaca.
  • Memiringkan kepala saat melihat objek fokus.

3. Fase Dewasa (19-40 Tahun)

Pada fase ini, mata biasanya berada pada kondisi paling prima karena struktur mata sudah matang sepenuhnya, namun gaya hidup modern saat ini menjadi tantangan terbesar, terutama kaitannya dengan penggunaan gadget.

Gangguan yang umum terjadi adalah:

  • Computer Vision Syndrome (CVS) atau mata lelah akibat paparan layar digital berlebih.
  • Mata kering.

Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai:

  • Mata merah
  • Terasa perih/mengganjal
  • Pandangan ganda sesaat
  • Sakit kepala di area dahi

4. Fase Pra-Lansia dan Lansia (40 Tahun ke Atas)

Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh mengalami penurunan alami, termasuk mata. Penuaan mata adalah hal yang wajar, namun harus dikelola agar kualitas hidup tetap terjaga. Pada fase ini, Lensa mata mulai kehilangan elastisitasnya (Presbiopia/Mata Tua), sehingga sulit fokus pada jarak dekat.

Gangguan serius yang sering muncul:

  • Katarak: Lensa mata menjadi keruh, pandangan seperti tertutup kabut.
  • Glaukoma: Kerusakan saraf mata (sering disebut “si pencuri penglihatan”) akibat tekanan bola mata tinggi.
  • Degenerasi Makula terkait Usia (AMD): Penurunan penglihatan pusat.
  • Retinopati Diabetik: Komplikasi pada mata akibat penyakit Diabetes Melitus.
  • Retinopati Hipertensi: Komplikasi pada mata akibat penyakit Hipertensi.

Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai:

  • Pandangan kabur perlahan
  • Sering berganti ukuran kacamata
  • Melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu
  • Hilangnya sebagian lapang pandang.

Kapan Harus Memeriksakan Mata?

Jangan tunggu sampai sakit! Berikut anjuran pemeriksaan mata secara berkala:

  1. Bayi/Balita: Skrining saat lahir, dan cek ulang saat usia 3 tahun.
  2. Anak Sekolah: Setiap 1 tahun sekali (terutama menjelang tahun ajaran baru).
  3. Dewasa: Setiap 2 tahun sekali.
  4. Lansia & Penderita Diabetes/Hipertensi: Wajib kontrol setiap 1 tahun sekali atau sesuai anjuran dokter.

Jika Sobat Sehat PKU Jogja atau keluarga mengalami keluhan atau menemui tanda dan gejala seperti di atas, segera konsultasikan ke Dokter Spesialis Mata. Ada baiknya juga jika pemeriksaan rutin ke Poliklinik Mata dilakukan sesuai rekomendasi sebelum adanya gejala.

Referensi:

  • American Academy of Ophthalmology. (2023). Eye Health A-Z: Vision Development.
  • Kementerian Kesehatan RI. P2PTM. Deteksi Dini Gangguan Indera Penglihatan.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS).

    Ditulis oleh: dr. Dhia Clarissa Putri  | Ditinjau oleh: dr. Aufaa Shafira, Sp.M